Senin, 30 Agustus 2010

Vegetasi Hutan Wanagama

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Indonesia adalah suatu negara kepulauan yang memiliki hutan tropika terbesar kedua di dunia, kaya dengan keanekaragaman hayati dan dikenal sebagai salah satu dari 7 (tujuh) negara megabiodiversity kedua setelah Brazilia. Distribusi tumbuhan tingkat tinggi yang terdapat di hutan tropis Indonesia lebih dari 12 % (30.000) dari yang terdapat di muka bumi (250.000). Sebagaimana telah diketahui bersama, tumbuh-tumbuhan tersebut telah dimanfaatkan manusia dalam kehidupan, sejak awal peradaban seperti untuk sandang, pangan, papan, energi, dan sumber ekonomi.
Dewasa ini sumber daya hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman yang ada di hampir sebagian besar wilayah Indonesia telah mengalami penurunan fungsi secara drastis dimana hutan tidak lagi berfungsi secara maksimal sebagai akibat dari eksploitasi kepentingan manusia baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.penyelamatan hutan seperti dibuatnya hutan Wanagama ini adalah suatu upaya dalam menanggulangi suatu bencana.
Hutan merupakan salah satu pusat keanekaragaman jenis tumbuhan yang belum banyak diketahui dan perlu terus untuk dikaji. Hutan berpotensi sebagai penahan erosi dan menghijaukan tanah yang tandus. Karena hutan Wanagama sendiri merupakan hutan buatan yang sengaja dibuat manusia dalam upaya sebagai penghijauan lahan yang tandus. Oleh karena itu untuk lebih mengetahui keanekaragaman dan vegetasi suatu hutan, maka perlu dilakukan studi untuk mempelajari vegetasi hutan. Salah satunya adalah hutan Wanagama
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana penerapan metode Quadrat Sampling Techniques di Hutan Wanagama?
2. Jenis-jenis tumbuhan apa saja yang ditemukan di hutan wanagama?
3. Bagaimana menganalisa struktur vegetasi di Hutan Wanagama?
C. Tujuan
1. Menerapkan metode pengambilan data pada studi vegetasi Hutan Wanagama dengan teknik ploting (Quadrat Sampling Techniques)
2. Mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan di Hutan Wanagama
3. Menganalisa struktur vegetasi Hutan Wanagama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Vegetasi
Vegetasi merupakan unsur yang dominan yang mampu berfungsi sebagai pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang alamiah dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbulkan dari daun, bunga maupun buahnya (Rochman, 2005).
Kimball (2005) menyatakan bahwa hutan hujan tropis mencapai perkembangan sepenuhnya pada bagian belahan bumi sebelah barat dan mencapai perkembangan sepenuhnya di bagian tengah dan selatan,sangat beragam spesiesnya. Disana, jarang dijumpai dua pohon dari spesies yang sama tumbuh berdekatan.vegetasinya sedemikian rapat sehingga cahaya sangat sedikit yang sampai ke dasar hutan.
Wilayah hutan hujan tropis mencakup ± 30% dari luas permukaan bumi dan terdapat mulai dari Amerika Selatan, bagian tengah dari benua Afrika, sebagian anak benua India, sebagian besar wilayah Asia Selatan dan wilayah Asia Tenggra, gugusan kepulauan di samudra Pasifik, dan sebagian kecil wilayah Australia. Pada umumnya wilayah hutan hujan tropis dicirikan oleh adanya 2 musim dengan perbedaan yang jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Ciri lainnya adalah suhu dan kelembaban udara yang tinggi, demikian juga dengan curah hujan, sedangkan hujan merata sepanjang tahun (Ewusie, 1980).
Menurut Soedjiran et all (1993) hutan hujan tropis (tropical rain forest) terdapat di daerah tropis yang basah dengan curah hujan yang tinggi dan tersebar sepanjang tahun, seperti di Amerika tengah dan selatan, Asia tenggara, Indonesia dan Australia timur laut. Dalam hutan ini pohon-pohonnya tinggi dan pada umumnya berdaun lebar dan selalu hijau, jumlah jenis besar. Sering terdapat paku-paku pohon, tanaman merambat berkayu liana yang sering dapat mencapai puncak pohon-pohon yang tinggi dan epifit. Hutan ini kaya akan jenis-jenis hewan invertebrata dan vertebrata.
Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam, yaitu metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan) dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang bersangkut paut dengan Sumber Daya Alam (Latifah, 2005).
B. Struktur Vegetasi
Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas (keanekaragaman) jenis. Komposisi dan struktur suatu vegetasi merupakan fungsi dari beberapa faktor seperti : flora setempat, habitat, (iklim,tanah dan lain-lain), waktu dan kesempatan. Komposisi dan struktur vegetasi tumbuhan tidak dapat dilepaskan dari pentingnya mengetahui air tanah dan ketersediaan air tanah bagi tumbuhan di sekitarnya. Ketersediaan air dalam tanah ditentukan oleh kemampuan partikel tanah memegang air. Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat dalam ruang-ruang antar butir tanah yang membentuknya. Air tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal terdapat pada bidang tanah yang mempunyai pengaruh besar terhadap proses pembentukan tanaman. Melalui profil, kedalaman air dapat diduga berdasarkan tinggi, maka air tanah yang selalu mengalami periode naik turun sesuai dengan keadaan musim atau faktor lingkungan luar lainnya. Kedalaman muka air tanah yang dimaksud adalah kedalaman muka priotik yaitu kedalaman muka air tanah sumur-sumur gali yang ada (Kusumawati, 2008).
Penyelamatan fungsi hutan dan perlindunganya sudah saatnya menjadi tumpuan harapan bagi kelangsungan jasa produksi ataupun lingkungan untuk menjawab kebutuhan mahkluk hidup Mengingat tinggi dan pentingya nilai hutan, maka upaya pelestarian hutan wajib dilakukan apapapun konsekuensi yang harus dihadapi, karena sebetulnya peningkatan produktivitas dan pelestarian serta perlindungan hutan sebenarnya mempunyai tujuan jangka panjang. Produktivitas tegakan ataupun ekosistem hutan Perlindungan dan aspek kesehatan hutan sebagai mata rantai pemeliharaan (Marsono, 2004).
Perlindungan dan aspek kesehatan hutan sebagai mata rantai pemeliharaan atau pembinaan hutan harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam satu kesatuan pengelolaan hutan dalam rangka melindungi hutan berikut komponen yang ada didalamnya dari berbagai macam faktor penyebab kerusakan. Hutan jika ditinjau dari aspek kesehatannya terbagi atas tiga komponen yakni dari sisi pemanfaatan yakni pada tegakkan hutan, lingkungan yakni terhadap sebuah komunitas dan kesehatan ekosistem yang lebih menjurus pada landscape (Marsono, 2004).
C. Hutan Wanagama
Kawasan Hutan Wanagama yang luasnya hampir mencapai 600 hektar merupakan tumpuan harapan bagi banyak orang yang bermukim di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya untuk kepentingan ekonomis ataupun kebutuhan akan jasa lingkungan sebagai paru–paru kota dan sebagai media pembelajaran alamiah ataupun oleh pemerintah daerah sebagai salah satu aset wisata alam bagi daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mengingat banyaknya manfaat yang dapat diperoleh lewat kehadiran kawasan Hutan wanagama ini, maka upaya untuk mempertahankan fungsi dan peran kawasan ini harus terus dilakukan (Irwanto, 2006).
Bahwa hutan yang sehat terbentuk apabila faktor-faktor biotik dan abiotik dalam hutan tersebut tidak menjadi faktor pembatas dalam pencapaian tujuan pengelolaan hutan saat ini maupun masa akan datang. Kondisi hutan sehat ditandai oleh adanya pohon-pohon yang tumbuh subur dan produktif, akumulasi biomasa dan siklus hara cepat, tidak terjadi kerusakan signifikan oleh organisme pengganggu tumbuhan, serta membentuk ekosistem yang khas (Kimmins, 1987).
Ekosistem hutan yang sehat terbentuk setelah hutan mencapai tingkat perkembangan klimaks, yang ditandai oleh tajuk berlapis, pohon-pohon penyusun terdiri atas berbagai tingkat umur, didominasi oleh pohon-pohon besar, serta adanya rimpang yang terbentuk karena matinya pohon. Ekosistem hutan yang sehat tercapai bila tempat tumbuhnya dapat mendukung ekosistem untuk memperbaharui dirinya sendiri secara alami, mempertahankan diversitas penutupan vegetasi, menjamin stabilitas habitat untuk flora dan fauna, serta terbentuknya hubungan fungsional di antara komunitas tumbuhan, hewan dan lingkungan (Widyastuti, 2004).
Kesehatan hutan dan kesehatan ekosistem tersebut menunjukkan bahwa keduanya merupakan tingkatan-tingkatan integrasi biologis. Konsekuensinya ialah antara keduanya mempunyai karakteristik yang sama, namun demikian terdapat perbedaan yang fundamental. Aspek kesehatan ekosistem lebih berhubungan dengan pola penutupan vegetasi dalam kisaran kondisi-kondisi ekologi yang luas, sedangkan kesehatan hutan lebih menekankan pada kondisi untuk memperoleh manfaatnya (Sumardi,2004).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Deskripsi lokasi
Hutan Wanagama terletak di Kecamatan Playen dan Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Secara geografis terletak antara 110030’38” dan 110033’3” Bujur Timur dan 7053’25” dan 7054’52” Lintang Selatan. Dengan batas-batas wilayah, sebelah Timur berbatasan dengan jalan raya Yogya-Wonosari sepanjang 3.1 km, mulai dari sungai Oyo di Bunder sampai di perempatan desa Gading. Sebelah selatan berbatasan dengan desa Gading, Banaran dan Ngleri, dengan panjang jalan batas hutan 6.3 km. Sebelah barat berbatasan dengan petak 3, petak 4 dan petak 8. Sebelah utara berbatasan dengan dukuh kemuning untuk petak 6, petak 7 dan sebagian kecil dengan petak 13, selebihnya berbatasan dengan sungai Oyo (Irwanto, 2006).
B. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada :
Hari/tgl : Minggu, 26 Maret 2010
Waktu : 08.00 – 12.00 WIB
Tempat : Hutan Wanagama, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta
C. Metode kerja
1. Alat dan bahan
a. Alat
1. termometer udara
2. termometer tanah
3. soil tester
4. meteran kamera
5. kamera
6. kantong plastik
7. kertas label
b. Bahan
Berbagai macam jenis tumbuhan di Wanagama
c. Cara kerja
Cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini sebagai berikut :
1. Menentukan lokasi dan batas-batas wilayah studi
2. Menentukan luas minimum plot sampling
a. Secara acak ditentukan kuadran I dengan panjang sisi 4 m atau luas 16 m2.
b. Identifikasi jenis dan dihitung jumlah individunya
c. Kuadran I diperluas menjadi 2 kali lipat luasnya, ukuran kuadran II (4 m x 8 m = 32 m2).
d. Identifikasi jenis dan dihitung jumlah individu dari jenis yang belum ditemukan pada kuadran I, dan apabila ditambahkan dengan jenis pada kuadran I maka diperoleh jumlah jenis pada kuadran II.
e. Kuadran II diperluas hingga berukuran 8m x 8m = 64 m2, selanjutnya kuadran II ditambah dengan perluasannya disebut kuadran III.
f. Identifikasi jenis dan dihitung junlah individu yang ditemukan
g. Perluasan kuadran diteruskan dan diikuti dengan identifikasi jenis dan perhitungan individunya, sampai jumlah jenis tidak ada lagi dengan penambahan yang tak berarti.
h. Pembuatan grafik
i. Membuat grafik berdasarkan data yang diperoleh dengan sumbu X sebagai luas kuadran, dan sumbu Y sebagai jumlah kumulatif jenis.
j. Titik sumbu X 10% dari luas kudran terbesar dan titik sumbu Y 10% dari jumlah kumulatif tertinggi jenis.
k. Garis ordinasi dibuat melalui titik temu 10% jumlah spesis dengan 10% luas plot terbesar.
l. Dibuat garis sejajar dengan garis ordinal yang menyinggung grafik jumlah kumulatif jenis. Titik singgung antara garis sejajar dengan grafik, diproyeksi pada sumbu Y, maka ditemukan luas plot yang dimaksud.
3. Pengamatan dan identifikasi jenis yang belumdiketahui.
4. Melakukan analisis data vegetasi untuk penentukan frekuensi (FA dan FR%) dan densitas (DA dan DR%).


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Tabel spesimen
Spesies Jumlah individu pada kuadrant total
I II III IV V
Spesies A 26 29 41 67 106 106
Spesies B 3 9 14 19 27 27
Mojo 14 29 36 58 83 83
Saga pihon 7 24 38 73 97 97
Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) 72 77 173 333 515 515
Spesies C 2 2 2 3 3 3
Cissus repens 7 28 49 81 251 251
Spesies D 1 1 1 1 4 4
Maclura coccinensis 7 15 23 28 43 43
Lilin 1 2 4 6 11 11
Spesies E 1 1 1 1 1 1
Eleuteranthera ruderalalis 1 3 5 7 14 14
Anggrek tanah 9 9 10 11 11 11
Spesies F 1 1 1 1 1 1
Spesies G 1 1 2 5 5 5
Spesies H 2 2 2 3 3 3
Pakan ulo - 1 1 1 3 3
Spesies I - 1 1 1 3 3
Spesies J - 3 3 6 13 13
Akasia (Acacia mangium) - 1 1 3 11 11
Spesies K - - - 4 4 4
Spesies L - - 1 3 5 5
Kecubung - - - 1 1 1
Benik-benikan - - - 4 4 4
Jambu-jambuan - - - - 2 2
Gnetum gnemon - - - - 1 1
Jamur - - - - 1 1
Spesies M - - - - 3 3

b. Tabel Penentuan Nilai
NAMA SPESIES DENSITAS ABSOLUT DENSITAS
RELATIF FREKUENSI ABSOLUT FREKUENSI RELATIF (%)
Spesies A 0,4 8,20 1 4,60
Spesies B 0,11 2,30 1 4,60
Mojo 0,32 6,60 1 4,60
Saga pihona 0,38 7,80 1 4,60
Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq) 2,01 41,60 1 4,60
Spesies C 0,01 0,20 1 4,60
Cissus repens 0,98 20,30 1 4,60
Spesies D 0,02 0,41 1 4,60
Maclura coccinensis 0,17 3,50 1 4,60
Lilin 0,04 0,80 1 4,60
Spesies E 0,003 0,06 1 4,60
Eleuteranthera ruderalalis 0,05 1,03 1 4,60
Anggrek tanah 0,04 0,80 1 4,60
Spesies F 0,003 0,06 1 4,60
Spesies G 0,02 0,41 1 4,60
Spesies H 0,01 0,20 1 4,60
Pakan ulo 0,07 1,45 0,80 3,70
Spesies I 0,01 0,20 1 3,70
Spesies J 0,05 1,03 0,80 3,70
Akasia (Acacia mangium) 0,04 0,82 0,80 3,70
Spesies K 0,02 0,41 0,60 2,70
Spesies L 0,002 0,41 0,40 1,80
Kecubung 0,003 0,06 0,40 1,80
Benik-benikan 0,02 0,41 0,40 1,80
Jambu-jambuan 0,007 0,14 0,20 0,90
Gnetum gnemon 0,003 0,06 0,20 0,90
Jamur 0,003 0,06 0,20 0,90
Spesies M 0,01 0,20 0,20 0,90
∑=4,82 ∑=21,80




c. Data Komponen Abiotk
Komponen yang diukur Plot
I II III IV V
Udara Suhu (°C) 31 31 31 31 31

Tanah pH 6,4 6,4 6,4 6,4 6,4
Kelembaban 91 91 91 91 91
Suhu (°C) 27 27 27 27 27
Ketinggian (mdpl) 196 196 196 196 196

d. Grafik


B. Pembahasan
Hutan Wanagama terletak di Kecamatan Playen dan Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Hutan Wanagama merupakan hutan buatan yang dibuat oleh fakultas kehutanan, Universitas Gadjah Mada. Tujuan dibuat hutan tersebut adalah sebagai penghijauan karena lahan yang tandus. Pada awal pembangunannya, Wanagama merupakan bukit gundul yang tandus dan kering. Kehidupan di lokasi ini dimulai ketika tim dari Fakultas Kehutanan UGM melakukan penghijauan dengan teori pembelukaran. Mereka menanam sebanyak mungkin jenis tanaman pionir yang mampu memperbaiki kondisi tanah, tata air, dan iklim mikro.
Tanaman pionir yang didominasi jenis legum memiliki kemampuan mengikat nitrogen di udara sehingga sanggup menyuburkan tanah. Kesuburan tanah juga didongkrak dari tumpukan biomassa humus yang berasal dari pembusukan daun. Hasil dari teori pembelukaran ini baru bisa dinikmati setelah kurun waktu 10-15 tahun.
Analisis vegetasi hutan memerlukan hal yang diperhitungkan yaitu terkait dengan nilai penting yang didapatkan dari praktikum lapangan ini.analisa ini digunakan untuk mengetahui struktur dan jenis vegetasi hutan Wanagama. Dengan mendeskripsikan tumbuhan maka dapat dihitung komposisi, struktur, densitas/kemelimpahan, frekuensi/sebaran dan penutupan tajuk dari spesies yang ditemukan.
Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas (keanekaragaman) jenis. Struktur hutan Wanagama tersusun atas berbagai densitas tumbuhan dengan lingkungan abiotik yang mendukung berlangsungnya hutan tersebut. Struktur vegetasi pada penelitian ini didasarkan pada kemelimpahan jenis spesies dan sebaran/frekuensi pada tiap plot. Pada studi vegetasi yang telah dilakukan, ditemukan 28 jenis tanaman yang berbeda.
Indeks nilai penting yang diukur yaitu densitas dan frekuensi. Kemelimpahan/kerapatan (densitas) merupakan banyaknya individu persatuan luas atau volume. Densitas/kemelimpahan terbesar ditunjukkan pada spesies mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) dengan densitas relatif sebesar 41,60 dengan karakter morfologi akar tunggang, batang berkayu, pertulangan daunnya sejajar, mempunyai buah yang bersayap berwarna coklat dan di dalam buahnya terdapat biji, rasa buahnya pahit. Densitas terkecil ditunjukkan oleh spesies E, F, kecubung, Gnetum gnemon, dan jamur. Dengan jumlah densitas relatif sebesar 0,06.
Frekuensi/sebaran merupakan distribusi/sebaran yang terjadi dan terdapat pada setiap plot. Frekuensi tersebut menggambarkan kemampuan tumbuhan dalam bertahan hidup dsesuai lingkungannya dan kemampuan tumbuh. Frekuensi terbesar ditunjukkan pada spesies A, B, Mojo, Saga pihon , Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), C, Cissus repens, D, Maclura coccinensis, Lilin, E, Eleuteranthera ruderalalis, Anggrek tanah, F, G, dan H. Sedangkan frekuensi terkecil ditunjukkan pada spesies jambu-jambuan, Gnetum gnemon, jamur, dan spesies M.
Kemelimpahan/densitas yang terjadi adalah keseluruhan jumlah tumbuhan pada semua plot yang paling dominan yaitu mahoni. Sedangkan frekuensi yang terjadi adalah sebaran pada masing-masing plot yaitu spesies A, B, Mojo, Saga pihon , Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), C, Cissus repens, D, Maclura coccinensis, Lilin, E, Eleuteranthera ruderalalis, Anggrek tanah, F, G, dan H. pola sebaran/frekuensi tidak mempengaruhi pada densitasnya. Karena frekuensi hanya kemelimpahan tiap plot sedangkan densitas adalh keseluruhan individu per plot. Begitu juga densitas tidak mempengaruhi besar kecilnya frekuensi.
Persebaran dan adaptasi tumbuhan merupakan faktor yang mempengaruhi struktur hutan Wanagama. Lapisan yang terdapat di hutan Wanagam ada tiga yaitu lapisan dasar/semak (tumbuhan merumput), lapisan tengah (perdu), dan lapisan atas. Vegetasi hutan akan nampak ketika terjadi pergantian musim dan cuaca. Luas penutupan tajuk adalah luas daerah yang dihuni tumbuhan. Penutupan tersebut menggambarkan adanya penguasaan pada daerah tersebut yaitu ditunjukkan dengan peneduhan oleh batang, daun, cabang jika dilihat dari sisi atas. Pada praktikum lapangan ini tidak dilakukan pengamatan mengenai luas penutupan tajuk. Ini dikarenakan pada saat penelitian kurangnya penyinaran oleh matahari dan faktor cuaca yang saat itu hujan, sehingga tidak terlihat luas penutupan tajuk oleh tumbuhan di hutan Wanagama.
Sruktur vegetasi di hutan Wanagama dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik lainnya. Faktor biotik seperti adanya semut, rayap, jamur maupun dekomposer lain yang membantu proses pertumbuhan tumbuhan. Faktor abiotik seperti tanah yang lembab dan kaya akan air yang di atasnya terdapat potongan ranting, daun dan serasah-serasah yang kaya mengandung humus juga akan mempengaruhi faktor biotiknya. Jika serasah-serasah tersebut didekomposisi oleh dekomposer, maka akan menjadikan tanah menjadi subur. Suhu, pH, kelembaban, ketinggian maupun intensitas cahaya juga berpengaruh pada vegetasi hutan Wanagama. Iklim yang mendukung dapat mempengaruhi kemelimpahan dan keberagaman spesies yang tumbuh di hutan Wanagama. Karena penlitian yang telah dilakukan yaitu pada bulan Maret yang masih termasuk musim penghujan.
Metode yang digunakan dalam vegetasi hutan Wanagama adalah teknik ploting (Quadrat Sampling Techniques). Menggunakan tehnik itu karena untuk menghitung vegetasi hutan yang begitu luas diperlukan metode yang menerapkan perluasan plot untuk menghitung densitas dan sebaran/frekuensi dari vegetasi hutan Wanagama yang nantinya dapat diketahui luas minimum plotnya. Perluasan plot yang telah dilakuakn yaitu sebanyak 5 kali dengan total perluasan yaitu 256 m2. Dari tabel yang didapatkan maka disajikan dalam bentuk grafik dan diperoleh luas minimum plot yaitu 32 m2. Luas mininmum plot tersebut adalah luas yang ideal digunakan untuk penelitian berikutnya, karena kemelimpahan pada plot tersebut masih banyak dibandingkan dengan yang lain.
Berdasarkan analisa nilai penting di atass yang mencakup densitas relatif dan frekuensi relatif, maka tumbuhan yang kemelimpahannya paling banyak yaitu mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) dan frekuensi relatif terbesar adalah spesies A, B, Mojo, Saga pihon , Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.), C, Cissus repens, D, Maclura coccinensis, Lilin, E, Eleuteranthera ruderalalis, Anggrek tanah, F, G, dan H. Tujuan hutan itu sendiri adalh sebagai penanggulangan erosi dan lahan yang tandus menjadi hijau kembali (penghijauan). Potensi hutan di wanagama dapat sebagai penanggulangan pengikisan tanah di daerah sekitarnya.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hutan Wanagama mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan yang melimpah karena hutan tersebut menyajikan berbagai jenis tumbuhan dan jumlah spesies/ kemelimpahan yang nyata. Tujuan dibuatnya hutan Wanagama sendiri untuk penghijauan dan penelitian. Penelitian yang telah dilakukan dengan metode Quadrat Sampling Tecnique tepat digunakan untuk mengetahui vegetasi hutan tersebut. Luas minimum plot yang didapatkan yaitu 32 m2 dan disitulah terjadi penambahan spesies yang paling banyak.
Jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh dari pengamatan yaitu sebanyak 28 spesies. Kemlimpahan yang paling banyak di hutan Wanagama yaitu ditunjukkan oleh spesies Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.). Struktur vegetasi dilihat dari nilai penting yaitu densitas relatif dan frekuensi relatifnya.
B. Saran
Hasil pengamatan hutan Wanagama yang telah dilakukan diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pada peneliti berikutnya pada umumnya. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini dan semoga laporan studi vegetasi hutan ini dapat diapresiasi. Amin. Marilah kita senantiasa mulai menyayangi diri sendiri yang dapat dimulai dengan menyayangi hutan di Indonesia. Salam konservasi.

Daftar Pustaka

Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Terjemahan oleh Tanuwijaya U. Bandung: ITB
Irwanto. 2006. Penilaian kesehatan hutan tegakan jati (Tectona grandis) dan eucalyptus (Eucalyptus pellita) pada Kawasan hutan wanagama. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada
Kimball. J.W. 2005. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Kimmins, J.P. 1987. Forest Ecology. New York : MacMillan Publishing Company
Kusumawati, J. 2008. Analisis Struktur Vegetasi Tumbuhan Hubungannya dengan Ketersediaan Air Tanah di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Marsono, Djoko. 2004. Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. Yogyakarta : BIGRAF Publishing bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL),
Rochman. 2005. Biologi. Bandung : CV. Pustaka Mulia
Sumardi dan S.M. Widyastuti. 2004. Dasar-Dasar Perlindungan Hutan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.






Lampiran

Spesies A
Spesies B
Mojo

Saga pihon (fam.Leguminosae) mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.)
Spesies C


Eleuteranthera ruderalalis

Anggrek tanah
Pakan ulo

Gnetum gnemon kecubung Jambu-jambuan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar