Senin, 30 Agustus 2010

ekosistem kebun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara organisme dan lingkungannya. Berkembangnya ilmu pengetahuan, ekologi tidak hanya mempelajari masalah hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya tetapi mempelajari pula stuktur dan fungsi ekosistem ( alam ), sehingga dapat menganalisis dan memberi jawaban terhadap berbagai kejadian alam. Di bumi ini terdapat bermacam-macam ekosistem seperti; ekosistem hutan, ekosistem danau, ekosistem kebun, ekosistem sawah, ekosistem laut, ekosistem mangrove, dan lain sebagainya. Setiap ekosistem mempunyai karakter yang berbeda dengan ekosistem yang lain karena setiap ekosistem memiliki struktur penyusun masing-masing. Menurut Odum ( 1983 ) adapun penyusun struktur ekosistem adalah densitas (kerapatan), biomassa, materi, energi, dan faktor fisik-kimia lain yang mencirikan keadaan sistem tersebut.
Pada pengamatan ini ekosistem yang digunakan adalah kebun. Kebun dalam bahasa Indonesia berarti sebidang tanah, yang mendapat sentuhan tangan manusia dan ditanami oleh berbagai macam tumbuhan. Ukuran kebun sangat bervariasi, mulai dari beberapa meter persegi hingga ribuan hectare. Apabila berukuran kecil dan ditanami tumbuhan semusim dapat disebut sebagai ladang.
Kebun yang digunakan sebagai objek penelitian adalah kebun ketela yang terletak di daerah belakang APMD dekat komunitas pemulung. Alasan memilih tempat tersebut karena daerahnya masih asri, dekat sungai, memenuhi kriteria pengamatan, dan mudah dijangkau oleh siapapun. Untuk mengetahui keseimbangan ekosistem kebun ketela tersebut maka diperlukan pengamatan langsung pada kebun ketela. Ekosistem kebun ketela dapat dikatakan seimbang ketika kita sudah mendapatkan hasil pengamatan dan menganalisisnya.




B. Rumusan Masalah
1. Jenis-jenis organisme apa yang ditemukan pada ekosistem kebun ketela?
2. Bagaimana tingkat tropiknya?
3. Bagaimana rantai makanan pada kebun ketela?
4. Bagaimana jaring-jaring makanan pada kebun ketela?
5. Bagaimana hubungan antara faktor abiotik dan biotik pada kebun ketela?
6. Seperti apa keseimbangan yang terjadi pada ekosistem kebun ketela?
C. Tujuan
1. Menentukan metode yang tepat untuk studi ekosistem kebun ketela
2. Mengidentifikasi jenis-jenis organisme yang ditemukan pada ekosistem kebun ketela
3. Mengelompokkan organisme berdasarkan tingkatan tropiknya
4. Menyusun rantai makanan dan jaring-jaring makanan
5. Menganalisis keseimbangan ekosistem kebun ketela














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Ekosistem
Ekosistem yaitu antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi.interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivor, karnivor, omnivor) dan dekomposer/penguurai (mikroorganisme) (Pratiwi, 2000).
Ekosistem terdapat interaksi antara komponen abiotik dengan komponen biotik. Pada komponen biotik di bentuk oleh berbagai organisme yang berbeda jenisnya. (Rochman, 2005). Beberapa organisme yang jenisnya sama akan membentuk populasi, beberapa populasi yang berbeda akan membentuk komunitas. Satu ekosistem akan berbeda dengan ekosistem lainnya. Perbedaan ini terjadi di dasarkan ciri-ciri komunitas yang menonjol (baik hewan maupun tumbuhan) karena setiap organisme membentuk komunitas memiliki karakteristik yan bermacam-macam.maka terbentuklah macam-macam ekosistem.
Maizer (2007) menyatakan bahwa dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer.tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Faktor-faktor abiotik merupakan bagian dari ekosistem selain komunitas spesies yang ada dalam suatu daerah tertentu (Campbell, 2004). Pada tingkat ekosistem akan berhubungan dengan aliran energi dan pendauran zat-zat kimia pada berbagai komponen biotik dan abiotik. Studi ekosistem banyak melibatkan ilmu lainnya, seperti genetika, evolusi, fisiologi, dan perilaku. Selain itu, kimia, fisika, geologi, meteorologi konservasi.
Menurut Kimball (2005) menyatakan bahwa ekosistem adalah suatu komunitas organisme yang berinteraksi sesamanya dan dengan alam tak hidup disekitarnya. Ekosistem beragam dalam produktivitasnya, artinya dalam jumlah energi yang disimpan dalam benda hidup heterotrof menjamin energi yang diperolehnya dari autotrof. Energi dan bahan dari organisme lain memastikan suatu rantai makanan dan setiap mata rantainya merupakan tingkatan trofik.
Pengelolaan lingkungan hidup bersifat Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia. Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, dikaitkan dengan peranan tumbuhan atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik material (bahan makanan) dan nonmaterial (keindahan dan nilai ilmiah). Dengan demikian kelangsungan hidup manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup. Menurut Odum (1979) dalam bukunya “Fundamentals of Ecology”, lingkungan hidup didasarkan beberapa konsep ekologi dasar, seperti konsep: biotik, abiotik, ekosistem, produktivitas, biomasa, hukum thermodinamika I dan II, siklus biogeokimiawi dan konsep faktor pembatas. Dalam komunitas ada konsep biodiversitas, pada populasi ada konsep “carrying capacity”, pada spesies ada konsep distribusi dan interaksi serta konsep suksesi dan klimaks.
B. Jenis-jenis Ekosistem
Menurut Rochman (2005) bahwa Ekosistem terbagi menjadi 4, yaitu:
a) Ekosistem air tawar, didalamnya hidup bermacam-macam ikan, yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya seperti kadar garam yang rendah .
b) Ekosistem air laut, hidup bermacam-macam ikan, yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya, seperti kadar garam yang tinggi.
c) Ekosistem darat, pada ekosistem darat komunitas vegetasi (tumbuhan yang menutupi permukaan tanah) dijadikan dasar keanekaragaman ekosistem darat, contoh hutan bakau(tanaman bakau sebagai dominan)
d) Ekosistem binaan, yaitu ekosistem yang sengaja dibentuk dan dibina oleh manusia untuk tujuan tertentu, seperti kolam, sawah, kebun serta tambak.
Sedangkan ekosistem menurut Kimball (2005) bahwa ekosistem terbagi menjadi 2, yaitu:
a) Ekosistem air tawar, 3% air dimuka bumi adalah air tawar. 99%membeku dalam glaiser dan terbenam dalam aquifer, sisanya terdapat dalam danau, kolam, sungai sdan aliran dan disitu menyediakan bermacam-macam habitat untuk komunitas hayati.
Ekosistem laut, terdiri atas pasir pantai, karang, muara, rawa mangrove dan gosong karang. Beberapa dari habitat ini , misalnya, rawa pantai.
C. Komponen yang mempengaruhi Ekosistem
Komponen yang mempengaruhi Ekosistem terdiri atas faktor abiotik dan faktor biotik (Maizer, 2007).
1. Faktor-faktor abioik utama:
a. Suhu
Suhu lingkungan merupakan faktor penting dalam persebaran organisme karena akan mempengaruhi proses biologis dan pengaturan suhu tubuh sebagian besar organisme. Sejumlah organisme dapat mempertahankan metabolisme yang cukup aktif pada suhu yang sangat rendah atau pada suhu yang sangat tinggi, adaptasi yang ini memungkinkan beberapa organisme hidup di luar kissaran suhu tersebut.
b. Air
Dengan sifat yang unik dari air dapat mempengaruhi organisme dan lingkungannya. Air sangat penting bagi kehidupan,tetapi ketersediaan di berbagai habitat sangat bervariasi. Organisme air tawar dan air laut hidup terendam didalam ligkungan akuatik dan menghadapi permasalahan keseimbangan air jika tekanan osmosis intraselulernya tidak sesuai dengan tekanan osmosis air disekitarnya. Organisme di darat menghadapi ancaman kekeringan yang hampir konstan dan evolusinya dibentuk oleh kebutuhannya untuk mendapatkan dan menyimpan air dalam jumlah besar. Alqur’an menegaskan bahwa air merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup (Q.S.al-anbiya 30)
c. Cahaya matahari
Dalam Alqur’an secara eksplisit telah menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan matahari dan bulan untuk keperluan dan manfaat bagi manusia sebagaimana dalam surat Ibrahim ayat 33. Matahari memberikan energi yang menggerakkan hampir seluruh ekosistem, meskipun hanya tumbuhan dan organisme fotosintetik lain yang mengunakan sumber energi secara langsung.intensitas cahaya bukan merupakan faktor yang terpenting yang membatasi pertumbuhan tumbuhan darat tetapi dihutan tropis terjadi persaingan ketat oleh adanya kanopi hutan. Di lingkungan akuatik, intensitas dan kualitas cahaya membatasi persebaran organisme fotosintetik.

d. Angin
Keberadaan angin sebagai komponen abiotik dalam biosfer. Angin mempunyai pengaruh suhu lingkungan pada organisme dengan cara menghilangkan panas melalui penguapan (evaporasi) dan konveksi (pendinginan oleh angin). Angin juga menyebabkan hilangnya air pada organisme melalui meningkatkan laju penguapan pada hewan dan peningkatan laju transpirasi pada tumbuhan. Di samping itu angin akan mempunyai pengaruh pengaruh pada penghambatan pertumbuhan pada daerah angggota tubuh yang terdapat pada daerah yang terkena tiupan angin sedangkan pada daerah yang tidak terkena tiupan angin akan tumbuh dengan normal.
d. Iklim
Komponen utama iklim adalah: suhu, air, cahaya, dan angin yang kesemuanya akan membentuk kondisi cuaca yang dominan pada suatu lokasi. Iklim dapat menyebabkan dampak yang sangat besar pada persebaran organisme dengan cara membuat klimagraf yaitu suatu plot suhu dan curah hujan dalam suatu daerah tertentu biasanya dibuat rata-rata dalam periode tahunan.
2. Faktor-Faktor Biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup: tumbuhan, hewan, manusia, mikroorganisme. Tumbuhan berperan sebagai produsen sedangakn hewan berperan sebagai konsumen dan mikroorganisme berperan sebagai decomposer. Komponen biotik meliputi semua makhluk hidup yang terdapat dalam. Ekosistem Berdasarkan fungsinya di dalam, ekosistem makhluk hidup dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer atau pengurai. (Jurnal Pendidikan Penabur - No.01 / Th.I / Maret 2002).
a. Produsen
Tumbuhan hijau mampu memanfaatkan cahaya matahari untuk menghasilkan zat makanan melalui proses fotosintesis, sehingga disebut sebagai produsen. Organisme yang dapat membuat makanan sendiri disebut organisme autotrof. Gambaran reaksi kimia proses fotosintesis. Zat makanan yang terbentuk merupakan energi kimiawi yang tersimpan pada bagian daun, batang, akar atau buah. Hasil fotosintesis lainnya adalah berupa oksigen dilepas ke udara bebas dan digunakan.
b. Konsumen
Manusia dan hewan termasuk dalam golongan konsumen karena keduanya tidak dapat membuat makanan sendiri. Konsumen disebut juga organisme heterotrof, artinya organisme yang tergantung organisme lain untuk mendapatkan makanan. Berdasarkan jenis makanannya, organisme yang mendapatkan makanan dari tumbuhan saja disebut herbivora, organisme yang hanya makan hewan disebut karnivora. Organisme yang mendapatkan makanan dari tumbuhan maupun hewan disebut omnivora.
c. Dekomposer atau Pengurai
Dekomposer atau pengurai dalam menguraikan zat organik yang terdapat pada makhluk hidup yang sudah mati menjadi zat yang lebih sederhana, seperti mineral atau zat organik lain. Makhluk hidup yang berperan sebagai pengurai adalah bakteri dan jamur saprofit. Zat mineral atau zat hara hasil penguraian meresap ke dalam tanah yang sangat dibutuhkan oleh tumbuhan. Keseimbangan ekosistem dapat terjadi bila ada hubungan timbal balik yang harmonis antar komponen biotik dan abiotik.
Energi dalam ekosistem Setiap kegiatan memerlukan energi. Sumber energi untuk organisme adalah energi kimia yang terdapat di dalam makanan. Makhluk hidup tidak mampu menciptakan energi, melainkan hanya memindahkan dan memanfaatkannya untuk beraktivitas. perpindahan energi berlangsung dari matahari ke tumbuhan hijau melalui proses fotosintesis. Di sini energi cahaya diubah menjadi energi kimia. Sewaktu tumbuhan hijau dimakan herbivora, energi kimia yang tersimpan dalam tumbuhan berpindah ke dalam tubuh herbivora dan sebagian energi hilang berupa panas. Demikian juga sewaktu herbivora dimakan karnivora. Oleh karena itu, aliran energi pada rantai makanan jumlahnya semakin berkurang. Pergerakan energi di dalam ekosistem hanya satu jalur, berupa aliran energi.
D. Struktur trofik dalam kehidupan
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara organisme dengan arah tertentu pada suatu ekosistem. terdiri atas rantai makanan perumput,rantai makanan detritus. Rantai Makanan tidak hanya mencakup hewan-hewan seperti rusa, sapi tetapi juga herbivora kecil misalnya serangga (Kimball, 2005). Kemudian dihancurkan oleh dekomposer terutam oleh fungi dan bakteri. Tetapi keadaan sangat berbeda pada sisa tumbuhan yang tidak bisa hancur dan tertimbun menjadi gambut, kemudian akan menjadi batu arang. Semua rantai makanan dimulai dengan organisme autrofik, yaitu organisme yang melakukan fotosintesis seperti tumbuhan hijau.organisme ini disebut produsen karena hanya mereka yang dapat membuat makan dari bahan mentah anorganik. Setiap organisme, misalnya sapi atau belalang yang memakan tumbuhan disebut herbivora atau konsumen primer. Karnivora seperti halnya katak yang memakan herbivora disebut konsumen sekunder. Karnivora sebagaimana ular, yang memakan konsumen sekunder dinamakan konsumen tersier, dan seterusnya. Setiap tingkatan konsumen dalam suatu rantai makanan disebut tingkatan trofik. Sedangkan jaring-jaring makanan dibentuk oleh beberapa rantai makanan yang saling berhubungan.
Pada rantai makanan telah kita ketahui bahwa tingkat tropik yang terdiri atas produsen, konsumen tingkat I, konsumen tingkat II, dan seterusnya. Produsen yang bersifat autotrof selalu menempati tingkatan tropik utama, herbivora menempati tingkat tropik kedua, karnivora menduduki tingkat tropik ketiga, dan seterusnya. Setiap perpindahan energi dari satu tingkat tropik ke tingkat tropik berikutnya akan terjadi pelepasan sebagian energi berupa panas sehingga jumlah energi pada rantai makanan untuk tingkat tropik yang sema- kin tinggi, jumlahnya semakin sedikit. Maka terbentuklah piramida ekologi/piramida makanan. Salah satu jenis piramida ekologi adalah piramida jumlah yang dilukiskan dengan jumlah individu. Piramida jumlah pada suatu ekosistem menunjukkan bahwa produsen mempunyai jumlah paling besar dan konsumen tingkat II jumlah lebih sedikit dan jumlah paling sedikit terdapat pada konsumen tingkat terakhir (Biological Science I, 1997).
E. Pola Interaksi
Contohnya pada Paku Simbar Menjangan menempel pada batang pohon ketapang. Peristiwa tersebut menunjukkan adanya interaksi antarorganisme. Tumbuhan paku mempunyai keuntungan mendapatkan tempat hidup, pohon ketapang tidak mendapatkan keuntungan maupun kerugian dengan adanya tumbuhan paku. Interaksi seperti ini disebut komensalisme.
a. Komensalisme
Komensalisme adalah interaksi yang saling menguntungkan satu organisme tetapi tidak berpengaruh pada yang lain. Contoh Epifit yang tumbuh pada tumbuhan inang. Tumbuhan anggrek yang hidup menempel pada pohon (inang), memanfaatkan inang hanya sebagai tempat fisik untuk hidup. Tumbuhan inang tidak mendapat tekanan (dirugikan) dengan adanya tumbuhan anggrek.
b. Mutualisme
Bentuk interaksi dimana kedua pasangan yang berinteraksi saling menguntungkan. Contoh umum mutualisme adalah penyerbukan yang dilakukan oleh serangga.
c. Parasitisme
Hubungan di antara dua organisme, yang satu sebagai parasit dan yang lain sebagai inang. Parasit memperoleh keuntungan dari kehidupan bersama ini dengan mendapatkan bahan makanan, sedangkan inang tertekan (dirugikan). Contoh hubungan antara tumbuhan Beluntas (Plucea indica) dengan Tali putri.
















BAB III
METODE PENELITIAN
A. Deskripsi Lokasi
Pada praktikum ekologi yang ditunjukkan sebagai objek kegiatan keseimbangan ekosistem yang terdapat pada vegetasi perkebunan, kami sebagai praktikum mengambil objek penelitian di perkebunan singkong di daerah Timoho, Gang Gendeng . Terdapat sepetak kebun singkong yang beukuran 144 m2, perkebunan singkong tersebut milik Bapak Sumarno dan keluarganya. Beliau tinggal di kawasan yang padat dengan area perkebunan dan banyak pohon-pohon yang tumbuh subur di sekitarnya. Seperti pohon mojopahit,pohon pisang, pohon jambu. Dan juga terdapat tanaman obat-obatan yang tumbuh liar seperti kunyit, lengkuas, adapun juga tumbuh tanaman cabe, sehingga kami sebagai praktikan untuk dapat mengamati dan mengidentifikasi organisme yang di temukan pada area perkebunan singkong tersebut.
Perkebunan singkong terletak diatas permukaan sungai yang cukup besar dan di bawah perumahan warga disekitar daerah tersebut, perkebunan singkong dengan struktur tanah yang gembur dan irigasi/pengairan cukup untuk pertumbuhan tanaman dapat menghasilkan suatu ekosistem ekosistem yang seimbang dan berbagai komponen- komponen abiotik maupun biotik.
B. Waktu dan Tempat
Penelitian di lakukan dengan 3 kali ulangan pada waktu dan kondisi yang berbeda yaitu
Siang : Senin 15 maret 2010, pukul 14.00 WIB
Sore : Kamis 18 maret 2010, pukul 17.00 WIB
Pagi : Kamis 25 maret 2010 pukul 06.00 WIB
Lokasi : Jalan Timoho, gang Gendeng ( perkebunan Bapak Sumarno).



C. Metode kerja
1. Alat dan Bahan
a. Alat
1. termometer udara
2. termometer tanah
3. soil tester
4. meteran
5. kamera
b. Bahan
Sepetak kebun singkong dengan luas 144 m2 dengan jenis organisme dan komponen abiotik yang ada di kebun singkong.
c. Cara kerja
1. Dilakukan observasi tempat penelitian
2. Dilakukan penelitian dengan cara membagi kelompok menjadi 8 orang dengan tugas menghitung komponen biotik dan abiotik dengan luas areal yang sama yaitu seluas 18 m2 (keseluruhan luas sebesar 144 m2).
3. Menghitung pH dan kelembaban tanah
 Disiapkan soil tester kemudian di tancapkan ke dalam tanah dan didiamkan selama 10 menit, kemudian diamati dan dicatat hasil PH yang diperoleh
 Setelah dihitung pH nya, ditekan tombol putih selama 10 menit dan diamati kelembaban tanahnya.


4. Menghitung temperatur tanah
 Disiapkan termometer tanah kemudian ditancapkan ke dalam tanah dan didiamkan selama 10 menit, kemudian diamati dan dicatat hasil temperatur tanah yang diperoleh.
5. Menghitung suhu udara
 Disiapkan termometer suhu kemudian diletakkan pada ranting pohon singkong dan didiamkan selama 10 menit, setelah selesai kemudian diamati suhu udara yang ada pada perkebunan singkong














BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Tabel 1. Data faktor biotik dan abiotik ekosistem kebun
Waktu : Senin, 15 Maret 2010 (siang)
Pukul : 14.00 WIB
a. Tabel faktor biotik
Jenis Jumlah
Hewan
1. Kupu-kupu 13
2. Semut 50
3. Capung 13
4. Lalat 1
5. Laba-laba 6
6. Belalang 11
7. Ayam 5
Tumbuhan
1. Pohon ketela 60
2. Krokot 32
3. Tanaman Cabai (Capsicum frutescen) 23

b. Tabel faktor abiotik
Parameter abiotik Keterangan
1. Cuaca Mendung
2. Tanah Gembur, kering, berwarna coklat
3. Pengairan Selokan kering tidak ada air

Waktu : Kamis, 18 Maret 2010 (sore)
Pukul : 17.00 WIB
a. Tabel faktor biotik
Jenis Jumlah
Hewan
1. Kupu-kupu 4
2. Semut 40
3. Capung 6
4. Lalat 1
5. Laba-laba 5
6. Belalang 21
7. Jangkrik 11
8. Lebah 3
9. Nyamuk 15
Tumbuhan
1. Pohon ketela 60
2. Krokot 32
3. Tanaman Cabe (Capsicum frutescen) 23

b. Tabel faktor abiotik
Parameter abiotik Keterangan
1. Cuaca Hujan
2. tanah Lembab, berwarna coklat
3. pengairan Banyak air





Waktu : Kamis, 25 Maret 2010 (pagi)
Pukul : 06.00 WIB
a. Tabel faktor biotik
Jenis
Jumlah
Hewan
1. Kupu-kupu 7
2. Semut 22
3. Capung 1
4. Lalat 25
5. Laba-laba 4
6. Belalang 12
7. Jangkrik 3
8. Lebah 3
9. Nyamuk 1
Tumbuhan
1. Pohon ketela 60
2. Krokot 32
3. Tanaman Cabe (Capsicum frutescen) 23

b. Tabel faktor abiotik
Parameter abiotik Keterangan
1. Cuaca Cerah
2. tanah Lembab, berwarna coklat
3. pengairan Sedikit air
4. suhu udara 26°C
5. suhu tanah 25 °C
6. pH tanah 6,7
7. kelembaban 54%


2. Rantai makanan









3. Jaring-jaring makanan




















4. Tingkat Tropik Dengan Konsep Piramida




















B. Pembahasan
Ekosistem kebun merupakan salah satu ekosistem yang dipelajari dan diteliti dalam praktikum ekologi. Ekosistem kebun yang telah dilakukan oleh kelompok kami menggunakan metode random dalam pengamatan. Dan menempatkan waktu penelitian dalam tiga waktu yang berbeda yaitu pagi, siang dan sore. Kemelimpahan organisme (komponen biotik) sangat beragam dan banyak. Selain faktor biotik juga faktor abiotik yang berada dalam waktu dan kondisi yang berbeda bertujuan untuk mengetahui perbedaan jenis, kuantitas spesies dan komponen abiotik pada ekosistem kebun. Faktor-faktor abiotik seperti suhu, kelembaban, pH, tanah dan cuaca sangat mempengaruhi komponen biotik yang hidup di kebun.
Faktor berdasarkan sifat dibedakan menjadi komponen biotik dan abiotik serta korelasinya. Pada pengamatan siang hari dengan tanah kering, cuaca mendung dan pengairan sedikit, menunjukkan kemelimpahan biotik yang tidak beragam seperti pada waktu pengamatan sore hari dengan kondisi hujan, tanah lembab dan pengairan banyak. Jenis organisme menunjukkan kesamaan pada pengamatan sore dan pagi hari, namun kemelimpahan organisme di kebun berbeda. Di dalam ekosistem kebun ini terlihat telah terjadi interaksi antara faktor biotik dan komponen abiotiknya.interaksi yang terjadi seperti distribusi air yang terdapat di dekat kebun. Sungai yang berada di dekat kebun tersebut menyebabkan keadaan tanah menjadi lembab. Selain itu faktor abiotik lainnya juga mempengaruhi distribusi organisme, seperti suhu, pH dan kelembaban. Dari faktor abiotik itulah yang mempengaruhi kemelimpahan faktor biotiknya.
Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan telah didapatkan hasil pengamatan, yang meliputi : piramida ekologik, rantai makanan dan jaring-jaring makanan. Piramida ekologik yang diperoleh disusun berdasarkan tingkatan tropik komponen biotik yang diperoleh. Tingkat tropik I ditempati oleh produsen (ketela, krokot dan cabai) sebagai penyedia dan penghasil energi untuk tingkat tropik II. Energi yang dihasilkan oleh produsen diperoleh dari hasil fotosintesis tumbuhan dengan memanfaatkan CO2 dan cahaya matahari. Dengan mengubah amilum dan karbondioksida menjadi oksigen, air dan energi. Persediaan energi yang dihasilkan oleh tingkat produsen ini dimanfaatkan oleh tingkat tropik II yang ditempati oleh konsumen tingkat I (lalat, belalang, jangkrik, semut dan lebah, kupu-kupu). Disini telah terjadi aliran energi yaitu dari tingkat tropik I ke tingkat tropik II (produsen ke konsumen tingkat I). Tingkat tropik III sebagai konsumen II (Capung dan laba-laba). Tingkatan tropik IV ditempati konsumen III (ayam dan laba-laba). Laba-laba masuk konsumen II dan III disebabkan karena ekosistem yang berjalan secara alami karena laba-laba mempunyai mangsa di konsumen tingkat I dan II. Tingkatan tropik V ditempati oleh konsumen IV yaitu ayam. Seperti halnya dengan laba-laba, ayam menempati konsumen III dan IV karena mangsa ayam berada pada konsumen II dan IV.
Dari tingkatan tropik di atas produsen sebagai penghasil energi dibutuhkan untuk tingkatan tropik I, dan energi dari tingkat tropik I dimanfaatkan oleh tingkatan tropik II dan begitu seterusnya sampai tingkatan tropik yang ke V. Aliran energi terjadi diantara tingkatan tropik di atas. Aliran energi tersebut akan menyebabkan hilangnya energi dari tingkatan tropik yang satu ke tingkatan tropik berikutnya. Tingkatan tropik yang lebih atas membutuhkan energi dan tergantung dari tingkatan tropik yang berada di bawahnya. Misalnya tingkat tropik II (konsumen I) sangat bergantung dan memerlukan energi dari tingkat tropik I yaitu produsen. Hubungan antara tingkat tropik tersebut dipertahankan sampai tingkat tropik yang satu dapat memenuhi kebutuhan tingkat tropik yang lainnya.
Rantai makanan adalah peristiwa makan dan dimakan antara organisme dengan arah tertentu pada suatu ekosistem. Rantai makanan terbentuk karena pola ekosistem yang berjalan secara alami antara produsen, konsumen tingkat I, konsumen tingkat II, konsumen tingkat III dan konsumen tingkat IV. Produsen yang ditempati oleh ketela, krokot dan cabai memberikan kontribusi terhadap berlangsungnya kehidupan bagi konsumen tingkat pertama. Produsen sebagai sumber makanan bagi konsumen pertama menyediakan nutrisi dan energi bagi konsumen I. konsumen I (lalat, lebah, jangkrik, semut dan kupu-kupu) akan dimanfaatkan oleh pemangsa berikutnya yaitu konsumen tingkat II. Konsumen tingkat II (capung dan laba-laba) akan mengalami hal yang sama yaitu dimakan atau dimanfaatkan oleh koonsumen tingkat III. Konsumen tingkat III (laba-laba dan ayam) akan dimanfaatkan oleh konsumen berikutnya yaitu konsumen tingkat IV (ayam). Sebenarnya di dalam ekosistem kebun tersebut ada dekomposer yang berperan dalam rantai makanan ini, akan tetapi pengamatan yang telah dilakukan, tidak ditemukan adanya dekomposer. Pemilihan waktu yang kurang tepat dan kurangnya penelitian secara berkala yang menyebabkan dekomposer tidak teramati.
Perpindahan energi terjadi mulai dari produsen dimakan konsumen tingkat I, konsumen tingkat I dimakan konsumen tingkat II dan seterusnya. Keadaan ini akan dipertahankan selama jumlah produsen lebih besar daripada konsumen tingkat I. konsumen tingkat I lebih besar dari konsumen tingkat II dan seterusnya. Dalam hal ini peristiwa makan dan dimakan dari produsen dan konsumen tidak dihabiskan semuanya. Akan tetapi masih menyisakan energi yang ditinggalkan. Dan energi yang ditinggalkan tersebut akn berubah menjadi bentuk energi yang lain. Sehingga akan terbentuk piramida ekologi yang menunjukkan tingkatan konsumen di atasnya lebih kecil dibandingkan konsumen yang berada di bawahnya.

















BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ekosistem kebun yang telah diamati ditemukan organisme yang membentuk suatu piramida ekologik, rantai makanan dan jaring-jaring makanan. persediaan energi yang paling melimpah adalah pada tingkat tropik I yaitu produsen (ketela, krokot dan cabai). Sedangkan tingkat tropik II, III dan IV secara berturut-turut semakin berkurang. Dengan pola yang demikian, maka ekosistem kebun yang diteliti masih dalam keadaan yang seimbang.
B. Saran
Pada penelitian ekosistem seharusnya dilakukan secara berkala dan ditempatkan waktu yang berbeda-beda. Waktu dan kondisi yang berbeda, misalkan mendung, hujan dan cerah akan mempengaruhi jumlah dan jenis organisme yang berada dalam ekosistem tersebut. Pengukuran faktor abiotik dilakukan sekali, karena keterbatasan alat untuk pengukuran. Seharusny perlu ditambah alat untuk pengukuran komponen abiotik.











Daftar pustaka
Anonim. 1997. Biologi science 1.diunduh dari http:// Biological Science I .com. tanggal akses 2 April 2010
Campbell, Neil. 2004. Biologi jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Kimball. J.W. 2005. Biologi Jilid 3 Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Michael.1995. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta : UI Press
Odum, Eugene P. 1979. Fundamentals of Ecology third Edition. Georgia: Saunders
College Publishing
Paskalis riberu. 2002. Pembelajaran Ekologi. Jurnal Pendidikan Penabur - No.01 / Th.I / Maret 2002
Pratiwi, D.A. 2005. Biologi Jilid 3 edisi Kelima. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama, Erlangga
Rochman. 2005. Biologi. Bandung : CV. Pustaka Mulia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar